Kamis, 30 Agustus 2012

rujukan rubrik.

 on Thursday, May 24, 2012 at 1:11am ·


Aku memang tidak punya apa apa sekarang, yang kumiliki hanyalah sebuah idealisme beserta beberapa kebaikan dari teknologi masa kini. Yang aku punya beberapa gelintir teman dan saudara  yang baik, itupun mungkin hadiah dari Tuhan. Aku sangat berharap pada tamu tamu yang akan ramai berkunjung dan berdiskusi, pada anak muda yang bisa menghabiskan sedikit sorenya untuk duduk dan membaca wacana wacana yang secara niat memang diperuntukkan bagi mereka. Akankah membosankan bagi mereka? Apakah memaksakan sebuah ide yang bisa jadi kuno dan tidak mengikuti gaya hidup di hadapan mereka? Atau mungkinkah, dari awalan itu bisa menjadi pokok topik pembicaraan hingga menjadi bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup di antara mereka, para muda?
kalaupun itu hanyalah sebuah mimpi, aku mempercayai, adalah sebuah mimpi indah. Mari... :)

Promosi part 1. (promosi kok bilang2) by Ratsari Mardika on Wednesday, May 9, 2012 at 12:40am ·


Menjadi seorang pemimpin yang baik. Tidak mudah? Tentu saja. Namun apakah tidak mungkin? Tentu saja tidak.
Melalui berbagai proses dan dinamika kehidupan, ternyata memang sebuah proses kepemimpinan sangatlah sulit dan berliku. Namun ketika berhasil, buah manislah yang dipetik. Dalam mata kuliah kepemimpinan yang pernah saya dapatkan, saya melihat bahwa seorang pemimpin adalah decision maker yang tepat. Ia mampu menghitung kekuatan, kelemahan kondisi makro, pesaing dsb sehingga mampu melahirkan keputusan yang pas dengan kondisi yang dimilikinya. Ini, bila berhubungan dengan persoalan strategi.
Pemimpinpun tentu memiliki sesuatu yang dipimpin atau berada di bawah kepemimpinannya. Merekalah manusia. Manusia memiliki berbagai karakteristik,persepsi, pemikiran, latar belakang yang sangat beragam jumlahnya. Sebagai seorang pemimpin yang baik, tentulah ada proses proses bagaimana cara memahami mereka, namun yang perlu digaris bawahi, memahami tidak selalu menyenangkan atau membuat senang. Mungkin secara lebih tepatnya, yaitu membuat mereka nyaman dan memiliki kecintaan terhadap tujuan kerja mereka.
Melahirkan pemimpin pemimpin ideal berarti berusaha mewujudkan sosok sosok yang bisa menawarkan berbagai upaya pemecahan kondisi yang berantakan supaya bisa diatur menjadi rapi. Melahirkan pemimpin pemimpin ideal berarti menyumbangkan begitu besar energi demi terciptanya sebuah kebaikan. Dimanakah posisimu? Apa yang ingin kamu sumbangkan untuk melahirkan orang orang yang memiliki pemikiran dan moral yang baik?









*ada apakah ini kenapa tiba tiba mengangkat tema pemimpin.

Part 2 Bagaimana seharusnya remaja-generasi muda (kita?)


Generasi muda. Sebuah bagian masa dari perjalanan kehidupan yang utuh. Bagian  dari masyarakat yang senantiasa dielukan, ditinggikan, optimistis dan pandai. Generasi yang selalu ditunggu suara suara kritisnya. Generasi yang selalu diharapkan mampu membawa angin segar kehidupan.
Sudah cukup lama persoalan persoalan remaja cukup sulit terkendali. Hal ini terbukti dengan berbagai bentrokan yang tidak jarang menyebabkan terjadinya kematian kematian dengan angka yang tidak sedikit pada remaja. Padahal seringkali hal hal seperti ini tidak dipicu oleh sesuatu yang jelas, tidak dipicu oleh sebuah hal yang benar benar perlu untuk dipersoalkan, mungkin hal ini akan menjadi berbeda antara orang per orang, namun kita juga telah dibekali sejak lahir, akal untuk memikirkan hal ini semua, menilai sesuatu, mempertimbangkan dan bertindak. Kejadian kejadian itu seolah merujuk pada kondisi remaja yang benar benar labil secara emosi. Hanya sebuah keinginan untuk menunjukkan kekuatannya, dsb. Sayapun pernah membaca dari sebuah media yang menyatakan ada seorang remaja putri yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA yang meninggal karena entah mengalami keracunan atau tubuhnya tidak kuat menerima minuman keras yang ditenggaknya. Hipotesa mengatakan hal itu bukan keinginannya sendiri. Hal inipun membuktikan bahwa kelompok atau individu acuan cukup berpengaruh bagi pemilihan perilaku si remaja. Belum lagi maraknya media jejaring sosial yang dengan mudahnya mengangkat berbagai isu, yang seringkali hanya ditanggapi secara dangkal. Dan juga tak jarang menjadi sumber pemasukan nilai nilai yang menjadikan adanya sebuah gaya hidup. Mungkin praktis, konsumtif, membawa kenikmatan sesaat, dan lain sebagainya.
Kita seringkali mendengar berbagai ekspektasi yang tinggi dari generasi sebelumnya bagi orang orang muda ini. Yang katanya memiliki banyak energi berlebih. Yang selalu  aktif dan terkadang reaktif. Potensi potensi ini memang sangat layak bila mendapatkan perhatian dan harapan bagi banyak pihak.
Tidak perlu memulai sesuatu dari hal hal yang berjauhan dengan posisi kita saat ini atau sebelumnya. Saya mengambil potret remaja muda yang sempat berbentrok dengan sistem sekolahnya karena memperjuangkan apa yang menurutnya benar. Sebuah film dokumenter berjudul “Sekolah Kami Hidup Kami” berdurasi sekitar 15 menit ini mengisahkan sebuah perjuangan dari seorang anak muda yang memiliki ide subversif karena ketidakbenaran dan kebobrokan di sekitarnya. (tentu tokoh itu bisa kita jadikan tokoh inspiratif untuk rubrik seseorang kita nanti :p), dengan strategi dan kapasitasnya waktu itu, ia menggalang kekuatan untuk mewujudkan ide itu menjadi sebuah aksi nyata. Itu bila kita melihat sejarah masa lampau :p baru baru ini saya membaca kisah kisah  mengenai remaja berprestasi. Ada seorang remaja putri (usia SMA)  yang membuat sebuah permainan ular tangga. Apa menariknya ular tangga ini? Dalam tiap langkah permainan ini, ia memberikan pesan pesan seputar freesex dan berbagai risiko yang menyertainya. Iapun sibuk mengkampanyekan permainan ini pada teman teman sebayanya. Kitapun tidak jarang mendengar mengenai remaja remaja sekolah menengah kejuruan yang telah sukses melakukan daur ulang bahan bahan yang masih bisa dipergunakan. Ada yang bertujuan untuk mengurangi sampah, hingga melakukan penghematan energi dengan pembuatan teknologi berbahan bakar sumber daya yang dapat diperbaharui. Geliat anak anak muda makin terlihat, tidak hanya dengan rajin belajar di sekolah, namun mereka semakin mampu menerapkan ilmunya demi pemecahan pemecahan masalah yang ada dalam kehidupan sehari hari. Hal hal seperti ini yang tentu saja perlu kita beri apresiasi yang tinggi, supaya semangat itu terus menyala.
Memberikan sebuah pengaruh bagi cara pandang remaja, menurut saya adalah  sebuah hal yang harus. Tanpa ba bi bu, tanpa menjadikannya sebagai prioritas entah ke berapa.
Tentu, pengaruh itu sesuai dengan apa yang menjadi harapan bersama, pengaruh tidak memastikan hanya berasal dari satu pihak, namun pengaruh membawa sebuah ruang untuk saling berkomunikasi, mencari solusi solusi terbaik.
Perbedaan bukan sesuatu hal yang menjadi alasan untuk melakukan bentrokan, namun perbedaan membuka celah untuk berkomunikasi. (Rio Satriawan-maaf tidak sama persis)


Membuat kita bersama sama berpikir ulang mengenai kontribusi apa yang hendak kita berikan pada kehidupan, sejak dini bukankah adalah harapan kita bersama, hai generasi muda?

PART 3: Paradigma Berpikir yang Sama. Sebuah Stagnasi atau Universalitas?


on Thursday, May 10, 2012 at 4:26pm ·

Mengapa saya memasukkan wacana ini menjadi sebuah latar belakang dalam rencana proyek yang pernah saya angkat. Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan pertanyaan di benak saya untuk menjembatani sebuah perbedaan mendasar yang ada di dalam paradigma berpikir tiap tiap manusia. Rasanya begitu abstrak dengan kata kata ini. Sayapun merasa begitu, tapi marilah, dalam perjalanan ini, kita semakin beranjak tua dan masing masing memiliki sebuah pemahaman tersendiri dalam memandang tentang adanya sebuah realitas.
Dimulai dari sini, seorang teman pernah mengirimkan sebuah pesan singkat kepada saya, dalam pesan itu, ia bertanya,”Orang yang religius  itu sebenernya gimana sih” dengan sedikit terkejut saya berpikir ulang, dan menjawab, “obey His rule and avoid His prohibition, and EQ,SQ,IQ in balancing.”  Mungkin sama dengan yang ada di benak anda saat ini. Ya, terlalu umum, tidak berbeda dengan pelajaran pendidikan moral yang telah kita dapatkan selama bertahun tahun di bangku sekolah bahkan hingga level universitas. Dan dia mengatakan bahwa dia membutuhkan jawaban yang mengarah pada sebuah perilaku terapan. Dan aku mempertanyakan apa faedahnya mengetahui sebuah makna terutama makna terapan dari hal religiusitas. Iapun menjawab bahwa hal itu akan mengarahkannya melakukan perilaku perilaku yang memuat nilai nilai tertentu yang diyakininya. Yang pasti bisa pembaca prediksikan, tentu hal ini menyangkut hal hal yang sifatnya religi. Mungkin jawaban yang ada kemudian bisa dianggap semakin ngawur, pada waktu itu saya menjawab.
Religius means
Buang sampah pada tempatnya.
Hemat listrik.
Tidak memakai plastik secara berlebihan.
Tidak konsumtif.
Belajar dengan rajin sesuai dengan kontribusi yang akan diberikannya pada kehidupan.
Bersikap tulus.
Mempelajari politik.
Memberi makan pada orang orang yang kelaparan.
 Dan lain sebagainya.
Aneh? Malahan tampak seperti seorang pecinta lingkungan yang meninggi ninggikan perilaku kecintaan lingkungannya, atau seseorang yang antibelanja, atau siswa yang memiliki pandangan study oriented.  Belum lagi berpandangan naif atau altruistik. Begitukah religius? Religi macam apa itu. Mungkin kita lebih cocok membayangkan seorang rahib berjubah kuning, berkepala gundul, memiliki senyum yang khas dengan kekalemannya, dan tutur kata yang lembut serta santun untuk menunjang perilaku khususnya itu.
Dan dari salah satu contoh itu, saya lebih ingin menyoroti mengenai bisa begitu berbedanya orang yang satu dengan yang lain menanggapi sebuah kata yang sama. Sebuah hal yang sama. Sehingga inilah yang kemudian menjadi awalan dalam judul saya ini.
Melakukan penafsiran penafsiran terhadap berbagai hal yang ada di dunia ini memang tidak serta merta hanya merujuk pada apa yang nampak saja. Nah, oleh sebab itulah. Sebuah paradigma yang sama memang bisa menghantarkan pada hakekat suatu realitas itu sendiri, atau mungkin menjauhkannya. Namun memang ada sebuah kemungkinan bahwa sebuah kesamaan paradigma yang menolak untuk menerima sesuatu yang baru, memilih untuk menutup atau mengasingkan diri, akan lebih mudah terbawa pada sebuh situasi yang stagnan. Paradigma yang sama mengenai sebuah hal juga mungkin memiliki sebuah universalitas penyikapan terhadap sesuatu hal. Paradigma yang bagaimanakah?




*saya sangat berharap pada ide segar kawan kawan saya yang penuh talenta ini.

Sabtu, 05 Mei 2012

Bonus

Unforgettable part A (sebuah kata kata yang pernah saya dengar maknanya dalam bentuk yang lain)
Saya kira saya akan menemukan sesuatu di balik kata kata unforgettable. Mungkin sesuatu yang sangat berkenaan langsung dengan kondisi subjek, dan konteks khusus yang melingkupinya. Namun setelah membaca catatan itu, ya, memang seperti apa yang telah dikatakan oleh si penulis, bahwa kata kata itu mungkin memiliki sebuah makna yang cukup dalam bagi individu individu yang ada di dunia ini, untuk berusaha mewujudkannya.
“berusaha untuk tak terlupakan, dan dikenang sepanjang zaman..”
Saya akhirnya menyepakatinya, bahwa mungkin tiap orang memang menginginkan hal ini. Mungkin ini berarti, manusia menginginkan eksistensinya terakui dalam bentuk yang sama.. bentuk yang universal. Tercatat dalam buku sejarah mungkin, terukir di atas sebuah prasasti, terkenang dalam memori otak, dan tentu saja tertulis di masing masing batu nisan,atau catatan warga negara yang mati di dinas kependudukan. Tapi tentu saja tidak sekadar itu bukan?

Unforgettable part B
Saya mengingat perkataan serupa 5 tahun lalu. Sudah lama. Bukan perkataan, tepatnya sebuah tulisan. Dia ingin dikenang, sebagai seseorang yang berjasa, sebagai seseorang yang memberikan sesuatu pada dunia, sebagai orang yang besar. Itu adalah harapan terbesarnya. Dia punya banyak cita-cita, (konsep cita citanya waktu itu) mulai dari aktor, pilot, dokter, membuat sebuah masterpiece, yang lain saya lupa dan mulai berusaha mengukir prestasi sejak dini, menjadi ketua osis, menjadi siswa teladan tingkat provinsi, menunjukkan diri, menempatkan diri pada posisi terbaik. Semua energi akan dikerahkan dalam usaha untuk meraih semua itu.
Tapi kemudian, 1 tahun kemudian, setelah anak itu mengikuti sebuah aktivitas yang merujuk pada penyadaran akan ketundukan penuh pada yang esa, ia mengatakan pada saya bahwa orientasi hidupnya telah berubah. Ia hidup bukanlah untuk dikenang oleh dunia.. apapun yang akan dia capai, dia mengatakan bahwa hal itu adalah semata mata ia tujukan pada Tuhan. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang dunia ini lakukan.Keras. Tegas. Tentu saja saya merasakan perubahan yang sangat drastis dan merasakan sebuah keanehan. Perkataannya malah memperlihatkan bahwa ia tidak akan melakukan hal hal yang berguna bagi kehidupan.Terlampau individualis sepertinya. Ambisi yang begitu besar, tergantikan oleh sesuatu yang abstrak.
“memangnya apa yang dimaui Tuhanmu?”
“Apa yang menjadi perintahNya dan laranganNya.”
“???”
Pada saat itu, saya kembali memikirkan besarnya mimpi mimpi yang bisa dicapai oleh manusia, dan saat itu saya merasa bahwa begitu mudahnya manusia dikotaki, dibatasi, dan dipersempit oleh pemikiran pemikiran yang disebut berasal dari Tuhan.
Dan melalui proses-proses kehidupan yang tidak pendek, nilai itu sepertinya universal. Sebuah kebutuhan.
Menjadi seseorang yang tidak terlupakan memang berbicara mengenai ruang lingkup kebutuhan dan karya yang dihasilkan. Kebutuhan mana sebenarnya yang hendak dijawab olehnya.
Sebuah bantahan terhadap nilai yang lebih tinggi dari aktualisasi saya dapatkan kemarin. Ya.. kebutuhan akan nilai nilai dalam peta pikiran kita. Kebutuhan transendental. Kebutuhan akan sesuatu yang lebih tinggi dari sesuatu di luar manusia itu sendiri. Sesuatu yang abstrak. Gaib. Seringkali diartikan menjadi kebutuhan untuk menciptakan kebaikan, energi positif, dan makna makna lain yang serupa dalam ranah mewujudkan sesuatu yang lebih baik itu, tanpa adanya sebuah pijakan yang bisa dijelaskan kecuali kebutuhan itu tadi. Namun kita bisa bukan? Ya, bagian dari hakekat kemanusiaan kita yang berusaha mencari sesuatu terbenar, sesuatu terbaik.
Dan tentu saja, menjadi sesuatu masing masing adalah pilihan kita. Karya apakah yang hendak dihasilkan? Sebermanfaat apakah karya itu? Dan tentu dengan sendirinya manusia manusia akan mencatatkan namanya dalam dimensi yang telah lalu
Semoga :)






“Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia (Pram)”.

Selasa, 01 Mei 2012

stagnasi dan kekhawatiran

Seseorang pernah mengatakan pada saya. sebuah kekhawatiran mungkin, atau sebuah gugatan.
stagnasi.
"aku membayangkan bahwa bisa jadi surga itu membosankan."
sehingga apa implikasinya..?
Surga bukanlah sesuatu yang perlu kita kejar, karena kita takut akan kebosanan.karena manusia punya kekhawatiran pada apa yang akan terjadi di kehidupannya yang selanjutnya. baik ketika masih di sini, ataupun setelah dia mati.
mungkinkah sebuah kekhawatiran akan kebosanan itu lebih besar daripada konsekuensi atas kematian itu sendiri?

...

Jumat, 06 April 2012

15 Februari 2012, Awal Mula Perjalanan


15 Februari 2012, Awal Mula Perjalanan
 (Pertanggungjawaban dari perjalanan menyusur kota 3)
Ada banyak hal yang lupa dituliskan, atau sepertinya dan sebenarnya tidak lupa, tapi terlalu lama menunggu dan berada dalam sebuah pertikaian. Menunggu apa? Menunggu nunggu ide dan inspirasi datang, yang sebenarnya bukanlah sebuah alasan, karena sudah banyak kata motivasi diutarakan, jangan biarkan kamu menunggu ia datang, sehingga sebenarnya yang ada adalah sebuah pertikaian. Ya, antara niat dan perwujudan. Antara khayalan dan kenyataan. Bahwa kemalasan adalah sebuah musuh besar dan ia tidak akan hilang ketika semangat perlawanan semakin lama semakin hilang. Ya, tentu saja. Kembali kepada tanggal 31 januari yang telah lalu. Sebuah perjalanan dimulai. Aku menyebutnya sebagai perjalanan menuju titik kulminasi awal. Entah yang kedua ketiga atau berapapun, sebuah perbuatan perlu dilakukan ketika moralitas sudah mengalami penurunan kualitas, ketika sebuah jiwa bak mesin jahit merindukan oli mesin.
Berjalan menuju barat bersama serombongan teman yang beranjak pula menuju rumah kediaman mereka. Titik awal mereka. Dalam perjalanan ini  kupikir akan ada sesuatu yang baru, pemandangan yang lain, selain  kereta ekonomi yang lebih bersih daripada sebelumnya karena penataan tiket kereta api yang mengharuskan semua penumpangnya duduk dan tidak diperbolehkannya terlalu banyak pedagang asongan berkeliaran, walaupun beberapa anak kecoa masih sibuk berlalu lalang  di antara kaki kaki kami.
10, 15, 30 menit berlalu, tidak ada sesuatu yang mengesankan. Obrolan kami berlangsung , gelak tawa, perenungan, terdiam bersama adalah sesuatu yang biasa.  Beberapa tumbang, dihantam kantuk yang menyerang. Sore berlalu, kami melewati sebuah wilayah yang mengingatkan pada seseorang di televisi, nama daerah ini terkesan angker, sebelum memasuki wilayah Jepara, Cepu dan sebagainya.  Randu Belatung. Beberapa saat kemudian seorang Bapak  naik dan duduk di antara kawan kawan seperjuangan. Awalnya kami menganggapnya sebagai seorang penumpang seperti kebanyakan. Namun ternyata, sistem yang menaungi kami di dalam kereta itu tidak membuatnya menjadi begitu. Pemeriksaan karcis berlangsung, seorang kondektur didampingi seorang yang biasanya mengaku bahwa dirinya adalah seorang petugas keamanan.  Kami berada dalam deretan yang sama. 2 bangku berisi 4 orang yang duduk berhadapan dan 2 bangku berisi 6 orang yang berhadapan. Blok kami telah selesai diperiksanya, saatnya, bangku sebelah. Kawan kawan kami tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa dijadikan celah perilaku menyimpang. Tiba kemudian saatnya pemeriksaan tiket milik bapak tersebut. Sebuah kericuhan kecil terjadi. Tawar menawar dan penetapan harga pas terjadi. Wajah bapak itu menyiratkan wajah tak berdaya kebanyakan orang Indonesia yang tertindas  system di negerinya sendiri (lawas-….lawas banget memang).  Namun, perjalanan ini ternyata memang dimulai dari sini. Dalam ketidak tahuan dan keingintahuan kami, dengan data dan analisa seadanya, kami mulai membicarakan (*ngrasani dalam bahasa Jawa) bapak itu, tepatnya aku dan seorang teman di hadapanku.
What’s wrong with him?”
“ I think he must pay more for the seat.”
“what the **”
“ Are there any rules which manage about the payment of the violation?”
“No, I think..”
“So, how could it be?”
“  ;(  I don’t know”
“ what’s the matter?”
“ I think, he  sat on the wrong place, I mean, he would had permit to sit, when our friends go down, he may sit when we have dropped in Semarang.”
“Ah ya, maybe it’s also not a fault, because that seat actually empty.”
“I don’t know exactly, but if he must pay a fine,
Hmmm, will be the fine is used by them to improve the management of our train transportation?”
“Hah!!  I don’t know, I think no, what will you do with the money about ten or twelve  thousand rupiahs, maybe it’ll just “plug in” the pocket of them.” :(
Ok , well, after that we start to imagine how we remove corruption in our country to cure our disappointing about the government.
Beberapa saat kemudian, kereta api tiba stasiun  Poncol. Beberapa dari kami meninggalkan tempat duduk dan turun. Kereta berhenti lama, sangat lama bahkan, hingga 1 jam lamanya. Wajah wajah baru menempati tempat duduk di hadapanku. 1 perempuan muda duduk sendirian di situ, entah hendak kembali pada rutinitas dan pekerjaannya atau sesuatu yang lain. Berkali kali telepon selulernya berdering dan berkali pula ia angkat. Nada nada kemarahan muncul dari mulutnya. Si penelepon mengungkapkan ketidakpercayaannya, perempuan itu berada di kereta. Mungkin bapaknya, entah siapa. Namun perempuan muda ini membuatku kembali merenungkan betapa kebohongan, kejujuran, ketidakpercayaan, selalu berputar putar dalam dinamika kehidupan. Betapa diplomasi sangat rekat dan hampir tidak berbatas dengan kesempatan membalik balikkan kenyataan.
Pada saat yang sama pula, bangku bangku yang telah ditinggalkan kawan kawan dari Semarang dipenuhi oleh serombongan laki laki. Ada yang berasal dari bangku lain, ada yang bersama dengan perempuan muda yang sibuk dengan telepon selularnya tadi, dan tentu saja bapak yang berkasus dengan petugas tadi. Percakapan terjadi di antara mereka, tampaknya si Bapak tidak se”lemah” yang aku bayangkan sebelumnya , seperti yang kukemukakan di atas. Dia berbicara menggebu, membicarakan masyarakat kecil yang makin tertindas, juga mengeluhkan perlakuan yang ia dapat dari petugas kereta api tadi. Logat betawi khas terdengar dari mulutnya, membicarakan para pengemudi angkot yang makin brutal, harga barang yang “gila gilaan”,dan sebagainya, sepertinya ia sudah sering menjadi bagian dari hiruk pikuk Jakarta, namun tetap saja  tak   ada aksi yang bisa dia lakukan di hadapan para penguasa. Dan itulah akhir dari perjalanan Kertajaya menuju Jatinegara. Jes.. gejes..gejes...